|
|
comments (1)
|
Dari stasiun Citayam, gw naik kereta ke Manggarai untuk pulang, nengok anak istri di Cakung. Di dalam kereta rupanya udah penuh banget, ada pemandangan yang unik ada seorang ibu dengan menggendong anak bayi berdiri, didepannya lagi seorang perempuan umur 20 tahunan duduk dengan asyiknya, sementara disebelah kanan dan kiri perempuan muda tersebut, duduk pula ibu ibu dan beberapa laki-laki yang berumur sekitar 40 tahunan ke atas. Ibu yang menggendong bayi tersebut mulai keliatan payah, keluar keringat di sekitar wajahnya, dan perempuan muda di depannya dengan asyik atau malah pura-pura membaca buku. Sampai di stasiun Kalibata, tiba-tiba perempuan tersebut berdiri mempersilahkan ibu dan bayinya itu duduk ditempatnya. Ibu itu kemudian mengucapkan terimakasih pada perempuan muda tersebut, dan perempuan itu menjawab "ya". Sesudah itu perempuan muda tersebut turun dari kereta di stasiun Kalibata itu. Jarak dari gw naik di stasiun Citayam ke Kalibata, ada sekitar 7 stasiun yang dilewati dan itu lumayan banget jauhnya. Menurut gw perempuan ini bener-bener jahat sekali. Dia ingin dilihat "baik" dengan memberikan "tempat duduknya" pada ibu dan bayinya tersebut. DOSA BESAR yang diperbuat perempuan muda tersebut menurut gw:
1. Dia tega membiarkan ibu dan bayinya itu berdiri sampai 7 stasiun yang jaraknya jauh, sementara dia di depan berhadap-hadapan langsung dengan ibu itu.
2. Dengan mempersilahkan ibu dan bayinya itu duduk ditempatnya, dia telah merampas hak orang-orang yang berdiri lainnya dalam ruang publik tersebut, padahal gw yakin orang2 di ruang publik tersebut akan mempersilahkan ibu dan bayinya itu duduk menggantikan perempuan itu. Dia tidak tau etika dalam menggunakan fasilitas pubik karena dia sudah tidak berhak atas tempat publik (tempat duduknya) sebab dia sudah turun dan sampai tempat tujuannya yang berhak adalah orang2 didepannya yang berdiri dalam ruang publik itu.
3. Dia "Sok Baik, ingin dilihat wah oleh orang-orang", kenapa kalau dia beretikat baik tidak dari tadi memberikan tempat duduknya tersebut, dia memberikan tempatnya pas dia udah sampai, pake sok jago berucap silahkan duduk lagi.
Refleksi: Mudah2an kita tidak berbuat seperti perempuan itu, jangan sampai ingin dilihat "wah" oleh orang lain tapi sebenarnya kita tega dengan merampas hak orang lain. Mudah-mudahan kita bisa peka terhadap sekeliling baik dalam bersosialisasi dan juga dalam pekerjaan. (Citayam, 4 Oktober 2009)
|
|
comments (0)
|
|
|
comments (0)
|
|
|
comments (0)
|
Karir dan keluarga....hhmmm, kadang memang selalu menjadi dilema. Untuk seorang ayah mencari nafkah memang harus, apalagi kebutuhan hidup terus melonjak. Tapi disisi anak, kehadiran seorang ayah merupakan bayangan dirinya. Ayah merupakan seorang figur yang menjadi kebanggaannya. Ini dibuktikan banyaknya anak-anak (apalagi anak laki-laki), mereka cenderung memilih bermain bersama ayahnya (main komputer, main bola, dll) dibandingkan dengan ibunya. Tetapi ketika ayahnya harus bekerja dari pagi sampai malam, otomatis waktu bermain untuk anak tersebut berkurang bahkan tidak sama sekali (kecuali hari libur). Bahkan untuk seorang editor artikel, penyunting pengelola jurnal seperti saya, kadang pekerjaan tidak ada habisnya apalagi menjelang deadline penerbitan.
Tak jarang anak yang menunggu ayahnya pulang kerja dan berharap ayahnya akan bermain bersamanya, minimal misalnya dia akan menunjukkan kepada sang ayahnya dengan bangga bahwa dia telah membuat suatu karya tempel menempel, mewarnai menggambar, dll yang sebelumnya tidak bisa dia kerjakan. Tapi ketika sang ayah pulang bukan pujian yang dia terima tetapi malah bentakan yang dia terimanya..."ayah capek, sakit kepala, dll". ..bagaimana psikis sang anak?...
Hal-hal tersebut yang sering gw alamin, kadang memang merasa berdosa banget sama nabhan, my first boy...begitu gw pulang ke rumah, sepertinya pengen langsung cepet-cepet rebahan dikasur meluruskan pinggang kaki dan lengan...maklum kota Jakarta perjalanan paling cepat 1 jam...macetnya gilee ajee....Apalagi sekarang sinabhan sudah sering protes..ditambah lagi dia sudah jadi kakak....waktu untukmu dari ayah dan bunda menjadi semakin berkurang sayang.........nggak apa-apa ya....cuman sebentar aja kok, nanti jika semua sudah oke-oke semua kita bermain bersama lagi ya..
Di dunia yang semakin cepat ini memang banyak yang mesti dikorbankan antara karir dan keluarga, dua hal tersebut memang selalu tarik menarik dan selalu merebut hati kita dan kenyataannya memang susah untuk di bagi. Keluargalah yang jelas paling sering kita korbankan waktunya....Maafkan ayah ya nak......